12.2.11
Apologize
29.8.10
Furry Vengeance

He came. He saw. They Conquered.
Brandon Fraser dan Brooke Shields. Kedua bintang Hollywood ini terdengar lumayan, terlebih ketika mereka bersama membintangi satu film. Fraser adalah bintang Mummy 1 dan 2, sedangkan Shields adalah bintang Lipstick Jungle. Jadi kalau disuruh menonton film yang ada mereka berduanya, saya tidak mengira kemungkinan terburuk apa yang bisa terjadi. Paling tidak, ya bakal seburuk apa sih film Hollywood?
Saya sudah duduk di dalam bioskop tanpa ekspektasi. Saya sudah melihat trailernya, dan trailernya saja memang sudah tidak menjanjikan. Akhirnya filmnya dimulai.
Sepuluh menit pertama saya langsung hangus. Melihat adegan guyonan super konyol yang terlalu dipaksakan, binatang-binatang sok lucu yang suka bermain lempar batu, belum lagi pop-up balon pikiran yang maksanya luar biasa. Bila ini DVD, sudah saya matikan sekarang juga. Sayangnya ini di bioskop, sedang di traktir teman lagi. Mungkin wajah saya sudah mengenaskan waktu itu, karena teman saya sudah langsung menawarkan untuk keluar saja dari situ. Tapi saya bertahan, selain sudah bayarnya mahal, memang bisa seburuk apa sih film Hollywood yang satu ini ?
Menit-menit berjalan. Adegan slapstick menyakitkan bertambah banyak. Dan saya jadi superkasihan dengan mas Fraser. Dia sedang sebutuh apa ya sama uang sampai mau-maunya disiksa seperti itu? Di kurung dimobil bersama para sigung, di jebak kedalam WC portabel dan diguling-gulingkan oleh seekor beruang, dan lain-lain, dan seterusnya, dan sebagainya. Belum lagi lelucon yang tidak lebih ramai dari bunyi jangkrik. Belum lagi animasi (kalau memang namanya animasi) kasar binatang-binatangnya. Terutama saat adegan tidak penting para binatang berdansa bersama. Saya bertanya-tanya orang-orang di balik layar ini sebetulnya niat atau tidak membuat film ini. Sejujurnya saya jadi tidak mengerti Roger Kumble orangnya seperti apa, dan dia datang dari planet mana. Saya juga jadi tidak mengerti para penulis skenarionya, Michael Carnes dan Josh Gilbert, hendak membungkus cerita ini dengan tipikal komedi seperti apa.
Selera humornya jelas-jelas bukan selera humor orang biasa.
Baik, saya berhenti dulu curhatnya. Mari kita lihat dulu sisi positifnya. Sebetulnya dilihat dari segi cerita, film ini bermoral sekali. Film ini menceritakan perjuangan binatang hutan yang hendak memperjuangkan rumahnya (maksudnya hutan) agar tidak dibabat habis untuk dibangun mall disana. Kebetulan developer yang ditugaskan untuk mengerjakan proyek itu adalah Dan Sanders (Brendan Fraser). Rencana pembabatan hutan ini sebetulnya ditentang pula oleh keluarganya sendiri, sang istri Tammy (Brooke Shields) dan anaknya Tyler (Matt Prokop). Yah, film ini mengajarkan moral yang sangat baik tentang menghargai alam serta penghuninya.
Sayang eksekusinya sampah.
Di akhir curhatan saya, saya ingin mengutip cosensus report dari Rotten Tometoes : “A thin premise stretched far beyond serviceable length, Furry Vengeance subjects Brendan Fraser -- and the audience -- to 92 minutes of abuse".
Rate by me : 2 out of 10
28.8.10
Shutter Island

“Someone is missing.”
Leonardo Di Caprio. Nama itu saja sudah sangat mengundang saya untuk menonton sebuah film, tidak peduli siapa sutradaranya. Sudah menjadi rahasia umum bukan, bahwa bang Lendi (singkatan ini bukan dari saya, tapi pacar saya. Ew, i know.) ini sangat piawai dalam memilih peran. Telah dari lama saya ingin menonton film ini, yang disutradarai oleh Martin Scorsese (ya, beliau juga menyutradarai the Departed – 2006). Tapi entah kenapa filmnya masuk ke Bandung terlalu telat, sehingga saya baru menonton sekarang, dimana tentu bajakannya sudah merajalela dimana-mana.
Well, sebetulnya saya tidak tahu harus bersyukur atau tidak karena memilih menonton di Bioskop ketimbang menonton di DVD.
Cerita dimulai dari kedatangan Teddy Daniels (Leonardo Di Caprio), seorang Marshall AS yang ditugaskan untuk mencari seseorang yang hilang di Shutter Island. Shutter Island sendiri adalah pulau terpencil tempat dirawatnya tahanan-tahanan AS yang sakit jiwa dan dianggap berbahaya. Orang yang hilang ini adalah salah satu tahanan (atau lebih suka disebut sebagai ‘pasien’) yang paling berbahaya, Rachel Solando. Misteri hilangnya Solando membawa Teddy beserta rekannya Chuck Aule (Mark Ruffalo) kedalam sebuah teka-teki besar yang belum pernah diungkap sebelumnya.
Sepuluh menit pertama, saya sudah bisa melihat bahwa tidak akan ada kebahagiaan yang dibawakan oleh film ini. Shot-shot ruangan kosong dan gelap, tata ruang yang hampa, wajah-wajah orang yang frustasi. Belum lagi ketika dibawa lebih jauh ke satu jam berikutnya, pemicu frustasi itu bertambah dengan tumpukan mayat beku dan bayangan wanita yang mati tenggelam dimana-mana. Dimana arah kamera memandang, hanya ada wajah tegang dan kegalauan. Scoringnya juara, walau terdengar sangat familiar karena mirip dengan scoring Inception. Gosh, I freaked out almost all the time. Beri saya ketegangan dengan lelaki buruk rupa dengan cakar ditangannya daripada dengan orang gila yang menyebar dimana-mana tetapi siap berteriak sesuka hati dan memanipulasi. Sejujurnya bahkan setelah satu jam, saya mulai menyerah dengan tensi yang terbangun. Terlalu melelahkan. Bayangkan 137 menit penuh ketegangan itu. Akhirnya saya mulai memejamkan mata saya sekali-sekali sambil berharap agar filmnya cepat selesai.
Tensi mulai dibangun oleh Scorsese dari menit-menit awal, tanpa henti, hingga sekitar setengah jam sebelum film ditutup. Alur cerita dan pembangunan plot cukup baik dan cukup menipu untuk saya. Meski sayang sekali saya harus kecewa dengan endingnya. Pembentukan teka-teki yang ada, jatuh-bangun alur cerita, membuat saya menonton dengan seksama. Tapi sayang, tipe endingnya membuat saya langsung melupakan semua itu. Yah katakan saja, ini hanya masalah selera. Mungkin tipe ending Shutter Island bukan tipe kesukaan saya, tapi untuk saya itu cukup fatal karena langsung menghapus pemikiran-pemikiran saya 2 jam ke belakang.
Tetapi over all, film ini adalah film ter-membuat-lelah kedua bagi saya setelah Funny Games (2007).
Rate by me : 6 out of 10
11.7.10
Despicable Me

Superbad. Superdad.
Pertama saya melihat trailer film ini, saya tertarik karena ini adalah film yang digembar-gemborkan di acara film sebuah stasiun televisi. Oke, karena Eclipse juga sangat digembar-gemborkan oleh acara tersebut, maka saya agak kurang percaya dengan reviewnya. Tetapi film animasi selalu tampak menarik untuk saya, dan trailernya tampak cukup menjanjikan. Didukung oleh komedian kawakanSteve Carell sebagai pengisi suara sang tokoh utama, Gru.
Film ini menceritakan tentang Gru (disuarakan oleh Steve Carell), seorang penjahat yang katanya penjahat terhebat ini sedang merasa terancam oleh kenyataan adanya pesaing lain yang lebih hebat darinya. Untuk mengunggulinya, Gru harus melakukan sesuatu, dan langsung direncanakan olehnya untuk mencuri sesuatu yang ‘besar’, lebih besar dari pesaingnya yang berhasil mencuri Piramid dari Mesir. Sayangnya untuk mewujudkan rencananya, Gru harus mendapatkan suntikan dana dari Bank khusus penjahat yang dikepalai oleh penjahat yang tidak pernah tersenyum, Mr. Perkins, yang tidak terlalu terkesima oleh rencana Gru dan menolak permohonan peminjamannya. Namun Gru yang tidak patah arang, tetap berusaha menjalankan rencananya, yang akhirnya membawanya bertualang bersama pesaingnya yang terlihat pintar tapi konyol, Vector (Jason Segel); ilmuwan hebat yang sayangnya harus lapuk dimakan usia, Dr. Nefario (Russell Brand); trio gadis cilik penghuni panti asuhan, Margo-Edith-Agnes; serta tidak ketinggalan The Minions, makhluk-makhluk kuning mungil nan lucu yang multifungsi dari pengasuh anak hingga menjadi lampu fluorescent.
Awalnya saya kaget melihat tidak adanya bendera produsen animasi yang saya kenal, seperti Pixar atau Dreamworks atau Lionsgate bahkan. Hal ini disebabkan oleh kesepakatan saya dan pacar saya yang mengatakan betapa banyaknya karakter di film ini yang menyerap karakter film lain. Gru mengingatkan pada Anton Ego dari Ratatouille, orang-orangnya mirip dengan orang-orang di The Incredibles, dan bahkan ada boneka Unicorn yang mengingatkan saya dengan boneka Unicorn di Toy Story 3. Ternyata film ini adalah keluaran Universal Studio bekerjasama dengan Illumination Entertainment, hmmm rumah produksi yang tidak akrab di telinga saya untuk memproduseri film animasi. Hahaha… but never mind. Mungkin ini hanya ketidaksengajaan belaka atau saya yang sok-sokan sok tahu. Yang pasti, karakter-karakternya cukup kuat, lucu dan menarik, khususnya pada makhluk-makhluk kuning super menggemaskan itu. Saya sangat kagum dengan munculnya ide menciptakan makhluk-makhluk seperti The Minions ini, meskipun tidak jelas asalnya darimana dan sebenarnya makhluk apa itu.
Over all, sayangnya tidak ada kesan mendalam yang bisa ditinggalkan dari film ini. Seperti selayaknya film Hollywood, animasi pula, yang seolah memang memiliki standar minimal tersendiri yang memang sudah begus; Despicable Me sudah masuk ke dalam standar itu. Duet sutradara Pierre Cauffin dan Chris Renaudsudah bisa membuat film ini cukup menghibur (bahkan mungkin sangat menghibur untuk anak-anak), cukup mengharukan, dan cukup menyentuh; tetapi sayang kurang cukup berkesan bagi saya saat menontonnya. Karena cukup berbobotnya karya-karya mereka berdua sebelumnya, dan Despicable Me masih bisa dikatakan sebagai debut awal mereka, saya bilang ini adalah debut yang cukup baik. Pierre Cauffin adalah sutradara Gary’s Game (salah satu film pendek Pixar favorit saya) dan Chris Renaud sudah tergabung dalam tim animasi dan artistik di beberapa film terkemuka, seperti Ice Age dan Horton Hears A Who!.
Oh ya, tadi kebetulan saya menonton film ini dalam format 2D. Tetapi saya sarankan kepada anda untuk menonton versi 3D, karena banyak adegan yang akan lebih ‘menendang’ bila anda saksikan dalam format 3D.
Rate by me : 6 out of 10
10.6.10
Tekken

“Survival is no game.”
Dulu, saya adalah penggemar berat game ini. Entah itu Tekken, Tekken 2, Tekken 3 dan Tekken 4 (di zaman saya kecil baru segitu serinya, sekarang sudah sampai 6), semua saya mainkan berulang-ulang. Saya hapal karakter-karakternya, kekuatannya masing-masing, jurus masing-masing, sampai cerita latar belakang masing-masing tokoh yang suka ditampilkan di film mini (maaf saya tidak tahu istilahnya) dalam video game tersebut. Saya suka ceritanya, dan selalu membayangkan betapa kerennya bila ini difilmkan seperti game Street Fighter.
Maka, ketika ada film Tekken keluar, saya langsung kegirangan. Tidak peduli ketika teman saya bilang itu kurang menarik, tidak peduli untuk melihat siapa rumah produksi antah-berantah yang memproduksi film ini. Lagipula rating film ini di IMDB 7,5 dimana Prince of Persia yang juga saya kagumi hanya mendapatkan rating 6,9.
Singkat kata, tersebutlah di sebuah bioskop super landai yang ada di Bandung, meski kurang rela menyaksikannya disana, saya menonton Tekken. Menit pertama yang dibuka dengan adegan pertandingan lalu disusul dengan adegan kejar-kejaran, menarik. Adegan selanjutnya, lumayan. Lalu menit-menit pun berjalan, sialnya dengan kecepatan yang melambat. Hingga akhirnya saya menyadari 3 hal. Pertama, jangan terlalu percaya dengan rating imdb, lihatlah dulu dengan cermat berapa votersnya. Kedua, saya berterimakasih dengen cast director yang sudah memilih Jon Foo yang luar biasa ganteng itu karena memang sangat diperlukan, cuma dialah komoditas yang paling menjual di film yang dipenuhi adegan tidak penting soal pantat cewek dan seks sebagai lambang kekuasaan ini. Yang terakhir, jangan banyak berharap. Cerita bagus pun bisa diubah dan dikebiri sana-sini oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Tadinya saya berpikir, bila ceritanya akhirnya jadi jelek, setidaknya saya bisa melihat adegan perkelahian yang seru. Tapi ternyata, saya harus kecewa. Tidak ada yang spesial dalam adegan pertarungannya, dimana saya berharap banyak disini. Jurus andalan para petarung yang ada tidak keluar sama sekali ! Cuma ada bak-buk-bak-buk, terus jatuh. Pukul sana pukul sini, terus pingsan. Sabet sana sabet sini, terus mati. Aaaargh. Saya ingin melihat Jin Kazama yang punya devil gene itu sedang melakukan jurus andalannya. Saya ingin melihat dia bertanding dengan Heihachi Mishima yang memiliki kekuatan yang sama tapi dengan kemampuan yang lebih besar. Tapi yang saya dapat adalah Heihachi Mishima yang lemah dan pasrah dan tidak diberi kesempatan bertempur sama sekali, serta Jin Kazama yang sama sekali tidak cool serta kerjaannya menggoda wanita, ia baru tampak lumayan ketika emosi. Untuk beberapa petarung memang sempat ada gaya bertarung yang masih bertahan, seperti Eddy dengan gaya Capoieranya. Tapi sayang tidak berlaku untuk Christie Monteiro. Hmm, apa saya bisa memberi contoh lain ? Ternyata tidak.
Ide ceritanya entah dapat dari skenario yang mana. Ceritanya hanya berkutat tentang masalah keluarga yang dibawa-bawa ke sebuah turnamen-yang-konon-katanya-bergengsi-tetapi-pesertanya-minim-bersponsor-dan-kekuatan-petarungnya-biasa-saja. Tidak ada bahasan lebih lanjut tentang Turnamen Iron Fist-nya sendiri yang seharusnya menjadi sentral film ini. Latar belakang para petarung yang seharusnya menjadi bumbu cerita yang menarik dibuang jauh-jauh, bahkan para petarung menarik juga turut serta dibuang. Bahkan Anna dan Nina Williams yang seharusnya memiliki bumbu cerita menarik sebagai pembunuh berdarah dingin hanya difungsikan sebagai pajangan berbadan seksi yang kebetulan bisa berkelahi. Belum lagi banyak sekali adegan vulgar yang sangat tidak penting entah dimasukkan untuk apa (tambahan cerita bukan, pemanis cerita ? boro-boro!). Sungguh saya gemas mengira-ngira apakah Dwight H. Little (sang sutradara) serta penulis skenarionya sempat berpikir dulu atau tidak sebelum menggarap cerita ini. Tanpa mengurangi segala hormat, saya pikir mungkin film ini berbudget rendah sehingga setting dan adegan fantastis jadi tak terjamah, tetapi logika saya bilang dibanding buang duit untuk membangun set Anvil dan tempat Iron Fist Turnamen yang hasilnya pun setengah-setengah, lebih baik dieksplor lagi lebih cerita yang bisa menambah kemenarikan film serta mengalokasikan dana untuk menyewa koreografer kelahi yang lebih oke.
Setelah mengetahui cerita yang bobrok dan perkelahian yang tidak seru plus pemilihan tempat menonton yang paling tidak nyaman di seantero Bandung, apa yang bisa membuat saya tetap bertahan dan tidak langsung keluar dari tempat tersebut ? Jon Foo tentu. Sang pemeran Jin Kazama yang super tampan. Beruntung tampannya bisa dikasih super, dan setidaknya dia bisa berakting sedikit. Soalnya kalau tidak, saya tambahkan ketidakberuntungan saya dengan melihat film yang hampir semua pemainnya dibayar untuk berantem dan mejeng, bukan berakting. Kecuali mungkin sang pemeran kakek lemah Heihachi Mishima, Cary-Hiroyuki Tagawa. Meski karakter yang ia perankan tidak seperti karakter yang saya bayangkan, tetapi setidaknya aktingnya untuk menjadi kakek-kakek dengan harga diri tinggi sampai rela ditembak mati demi membela prinsipnya lumayan juga. Ian Anthony Dale, pemeran Kazuya Mishima, sang antagonis disini pun lumayan, bisa mengundang timpukan orang, meski mungkin terkadang membingungkan timpukannya untuk aktingnya yang berhasil atau sekedar tak tahan melihat wajahnya yang annoying.
Bila anda penggemar berat Tekken, saya kurang menyarankan anda untuk menonton film ini kalau tidak ingin mencak-mencak sendiri, kecuali kalau anda memang sudah kepalang penasaran seperti saya sebelumnya. Bila anda bukan penggemar atau bahkan mungkin tidak pernah mendengar kata Tekken, silahkan mencoba kalau memang anda tidak berkeberatan dengan film yang memiliki adegan tidak spektakuler dan cerita yang tidak luar biasa.
Rate by Me : 4,5 out of 10